Saturday, December 24, 2016

STRUKTUR PEMBANGUNAN KARYA SASTRA


À      Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi
Sebuah karya sastra mengandung unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik. Keterikatan yang erat antar unsur tersebut dinamakan struktur pembangun karya sastra. Unsur intrinsik ialah unsur yang secara langsung membangun cerita dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang turut membangun cerita dari luar karya sastra. Unsur intrinsik yang terdapat dalam puisi, prosa, dan drama memiliki perbedaan, sesuai dengan ciri dan hakikat dari ketiga genre tersebut. Namun unsur ekstrinsik pada semua jenis karya sastra memiliki kesamaan. Unsur intrinsik sebuah puisi terdiri dari tema, amanat, sikap atau nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, citraan, dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik yang banyak mempengaruhi puisi antara lain: unsur biografi, unsur kesejarahan, serta unsur kemasyarakatan.
À      Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Prosa
Unsur pembangun prosa terdiri dari struktur dalam atau unsur intrinsik serta struktur luar atau unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik prosa terdiri dari tema dan amanat, alur, tokoh, latar, sudut pandang, serta bahasa yang dipergunakan pengarang untuk mengekspresikan gagasannya. Tema prosa fiksi terutama novel dapat terdiri dari tema utama serta beberapa tema bawahan. Pada cerpen yang memiliki pengisahan lebih singkat, biasanya hanya terdapat tema utama.
Alur merupakan struktur penceritaan yang dapat bergerak maju (alur maju), mundur (alur mundur), atau gabungan dari kedua alur tersebut (alur campuran). Pergerakan alur dijalankan oleh tokoh cerita. Tokoh yang menjadi pusat cerita dinamakan tokoh sentral. Tokoh adalah pelaku di dalam cerita. Berdasarkan peran tokoh dapat dibagi menjadi tokoh utama, tokoh bawahan, dan tokoh tambahan. Tokoh tercipta berkat adanya penokohan, yaitu cara kerja pengarang untuk menampilkan tokoh cerita. Penokohan dapat dilakukan menggunakan 3 metode: (a) analitik, (b) dramatik, dan (c) kontekstual. Tokoh cerita akan menjadi hidup jika ia memiliki watak seperti layaknya manusia. Watak tokoh terdiri dari sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Cara kerja pengarang memberi watak pada tokoh cerita dinamakan penokohan, yang dapat dilakukan melalui dimensi (a) fisik, (b) psikis, dan (c) sosial.
Latar berkaitan erat dengan tokoh dan alur. Latar adalah seluruh keterangan mengenai tempat, waktu, serta suasana yang ada dalam cerita. Latar tempat terdiri dari tempat yang dikenal, tempat tidak dikenal, serta tempat yang hanya ada dalam khayalan. Latar waktu ada yang menunjukkan waktu dengan jelas, namun ada pula yang tidak dapat diketahui secara pasti.
Cara kerja pengarang untuk membangun cerita bukan hanya melalui penokohan dan perwatakan, dapat pula melalui sudut pandang. Sudut pandang adalah cara pengarang untuk menetapkan siapa yang akan mengisahkan ceritanya, yang dapat dipilih dari tokoh atau dari narator. Sudut pandang melalui tokoh cerita terdiri dari (a) sudut pandang akuan, (b) sudut pandang diaan, (c) sudut pandang campuran. Dalam menuangkan cerita menggunakan medium bahasa, pengarang bebas menentukan akan menggunakan bahasa nasional, bahasa daerah, dialek, ataupun bahasa asing.

À      Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama
Karya sastra drama memiliki unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik yang diperlukan untuk membangun ceritanya. Unsur intrinsik drama terdiri dari tema, plot, tokoh, dialog, karakter, serta latar.
Drama yang merupakan ciptaan kreatif pengarang harus memiliki tema yang kuat, agar tercipta sebuah cerita yang tak lekang oleh waktu. Tanpa adanya konflik, cerita drama akan terasa datar. Konflik terdapat di dalam plot, yang terjadi karena adanya ketegangan antartokoh. Tokoh drama terbagi menurut peran dan fungsinya dalam lakon. Menurut perannya tokoh terdiri dari tokoh utama, tokoh bawahan, serta tokoh tambahan. Di dalam drama fungsi tokoh sangat penting, yaitu sebagai tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis.
Cakapan merupakan ciri utama drama yang mungkin berupa dialog namun dapat pula berbentuk monolog. Selain itu, ada pula karakter (sebagai apa dan kejiwaannya seperti apa) dan latar yang saling berhubungan erat. Latar dalam drama sangat mempengaruhi karakter tokoh.
 



PUISI
À      Pengertian dan Ciri-ciri Puisi
Puisi ialah perasaan penyair yang diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat, serta mengandung rima dan irama. Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang dipergunakan serta dari wujud puisi tersebut. Bahasa puisi mengandung rima, irama, dan kiasan, sedangkan wujud puisi terdiri dari bentuknya yang berbait, letak yang tertata ke bawah, dan tidak mementingkan ejaan. Untuk memahami puisi dapat juga dilakukan dengan membedakannya dari bentuk prosa.

À      Jenis-jenis Puisi
Berdasarkan waktu kemunculannya puisi dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi modern. Puisi lama adalah puisi yang lahir sebelum masa penjajahan Belanda, sehingga belum tampak adanya pengaruh dari kebudayaan barat. Sifat masyarakat lama yang statis dan objektif, melahirkan bentuk puisi yang statis pula, yaitu sangat terikat pada aturan tertentu. Puisi lama terdiri dari mantra, bidal, pantun dan karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair. Puisi baru adalah puisi yang muncul pada masa penjajahan Belanda, sehingga pada puisi baru tampak adanya pengaruh dari kebudayaan Eropa. Penetapan jenis puisi baru berdasarkan pada jumlah larik yang terdapat dalam setiap bait. Jenis puisi baru dibagi menjadi distichon, terzina, quatrain, quint, sextet, septima, stanza atau oktaf, serta soneta. Puisi modern adalah puisi yang berkembang di Indonesia setelah masa penjajahan Belanda. Berdasarkan cara pengungkapannya, puisi modern dapat dibagi menjadi puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik.

À      Analisis Unsur-unsur Intrinsik Puisi
Untuk memahami makna sebuah puisi dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur intrinsiknya, misalnya dengan mengkaji gaya bahasa dan bentuk puisi. Gaya bahasa yang dipergunakan penyair mencakup:
(1) Gaya bunyi yang meliputi: asonansi, aliterasi, persajakan, efoni, dan kakofoni.
(2) Gaya kata yang membahas tentang pengulangan kata dan diksi.
(3) Gaya kalimat yang berisi gaya implisit dan gaya retorika.
(4) Larik, dan
(5) bahasa kiasan.
Memahami puisi melalui bentuknya dapat dilakukan dengan menelaah tipografi, tanda baca, serta enjambemen. Untuk mempermudah dan memperjelas penganalisisan puisi, di depan setiap larik berilah bernomor urut. Apabila puisi yang hendak dianalisis tersebut memiliki beberapa bait, dapat pula diberi bernomor pada setiap baitnya.

À      Penafsiran Puisi
Agar dapat memahami isi puisi diawali dengan menelaah atau melakukan kajian terhadap gaya maupun bentuk puisi yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan isi puisi. Perhatikan jika terdapat hal-hal yang menarik perhatian, misalnya judul serta kekerapan kata. Banyaknya kata yang berulang dapat menggiring pembaca dalam memahami tema. Jika  terdapat bait yang mengandung sedikit lirik, biasanya di sanalah tertuang tema puisi. Seperti halnya pada judul yang juga dapat membayangkan tema. Tetapi ingat, judul belum tentu sama dengan tema. Mengetahui tema serta akulirik merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam upaya memahami puisi.

Prosa
À      Pengertian dan Ciri Prosa Fiksi
Prosa fiksi sebagai cerita rekaan bukan berarti prosa fiksi adalah lamunan kosong seorang pengarang. Prosa fiksi adalah perpaduan atau kerja sama antara pikiran dan perasaan. Fiksi dapat dibedakan atas fiksi yang realitas dan fiksi yang aktualitas. Fiksi realitas mengatakan: “seandainya semua fakta, maka beginilah yang akan terjadi. Jadi, fiksi realitas adalah hal-hal yang dapat terjadi, tetapi belum tentu terjadi. Penulis fiksi membuat para tokoh imaginatif dalam karyanya itu menjadi hidup. Fiksi aktualitas mengatakan “karena semua fakta maka beginilah yang akan terjadi”. Jadi, aktualitas artinya hal-hal yang benar-benar terjadi. Contoh: roman sejarah, kisah perjalanan, biografi, otobiografi. Prosa selalu bersumber dari lingkungan kehidupan yang dialami, disaksikan, didengar, dan dibaca oleh pengarang.
Adapun ciri-ciri prosa fiksi adalah bahasanya terurai, dapat memperluas pengetahuan dan menambah pengetahuan, terutama pengalaman imajinatif. Prosa fiksi dapat menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dalam kehidupan. Maknanya dapat berarti ambigu. Prosa fiksi melukiskan realita imajinatif karena imajinasi selalu terikat pada realitas, sedangkan realitas tak mungkin lepas dari imajinasi. Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitikberatkan pada penggunaan kata-kata konotatif. Selanjutnya prosa fiksi mengajak kita untuk berkontemplasi karena sastra menyodorkan interpretasi pribadi yang berhubungan dengan imajinasi.

À      Jenis-jenis Prosa
Berdasarkan pembagian sejarah sastra Indonesia, dikenal 2 macam sastra, yaitu sastra klasik dan sastra modern. Sastra modern termasuk di dalamnya prosa baru yang mencakup roman, novel, novel populer, cerpen. Selanjutnya sastra klasik termasuk di dalamnya yaitu prosa lama yang mencakup cerita rakyat, dongeng, fabel, epos, legenda, mite, cerita jenaka, cerita pelipur lara, sage, hikayat, dan silsilah.
Roman adalah salah satu jenis karya sastra ragam prosa. Pengertian roman pada mulanya ialah cerita yang ditulis dalam bahasa Romana. Dalam perkembangannya kemudian, roman berupa cerita yang mengisahkan peristiwa/pengalaman lahir/batin sejumlah tokoh pada satu masa tertentu. Hal ini terjadi pada akhir abad ke-17. Perkembangan roman mencapai puncaknya pada abad ke-18. Pada abad ke-19 muncullah penulis-penulis roman yang termasyhur, seperti Honore de Balzac, Gustave Flaubert, Emile Zola, Charles Dickens, Leo Tolstoy, F. Dostojevski. Penulis-penulis roman ini kemudian disusul oleh rekan-rekannya yang mewakili abad ke-20, seperti Proust, Joyce, Kafka, dan Faulkner.
Bentuk yang hampir sama dengan roman adalah novel. Bagi pembaca awam, kedua bentuk ini sulit dibedakan. Pada dasarnya novel maupun roman menceritakan hal luar biasa yang terjadi dalam kehidupan manusia sehingga jalan hidup tokoh cerita yang ditampilkan dapat berubah. Novel dapat dibedakan menjadi novel kedaerahan, novel psikologi, novel sosial, novel gotik, dan novel sejarah, serta novel populer. Cerita jenis lain yang memiliki ciri utama sepertri novel adalah cerpen. Bedanya dengan novel, cerpen penceritaannya lebih ringkas, masalahnya lebih padu dan plotnya tunggal dan terfokus ke akhir cerita. Sebuah cerita yang panjang yang berjumlah ratusan halaman, jelas tidak dapat disebut dengan cerpen.

À      Unsur Intrinsik Prosa
Unsur intrinsik prosa terdiri atas alur, tema, tokoh dan penokohan, latar/setting, sudut pandang, gaya, pembayangan, dan amanat. Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi, bahwa pada umumnya alur cerita rekaan terdiri atas:
1. Alur buka, yaitu situasi terbentang sebagai suatu kondisi permulaan yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya;
2. Alur tengah, yaitu kondisi mulai bergerak ke arah kondisi yang memulai memuncak;
3. Alur puncak, yaitu kondisi mencapai titik puncak sebagai klimaks peristiwa ; dan
4. Alur tutup Dengan kata lain, alur cerita meliputi paparan, konflik, klimaks dan       penyelesaian.
Kedelapan unsur tersebut saling mengisi dalam sebuah prosa. Tema, misalnya menjadi sentral yang mengilhami cerita. Begitu juga dengan penokohan yang meramu watak tokohnya menjadi penyampai pesan yang diinginkan pengarang, baik yang jahat maupun yang baik. Agar penokohan ini tampak lebih hidup, ditopang dengan latar/setting cerita, gaya, pembayangan dan amanat.

À      Unsur Ekstrinsik Prosa
Unsur ekstrinsik prosa fiksi adalah segala faktor luar yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra seperti nilai sosiologi, nilai kesejarahan, nilai moral, nilai psikologi. Ia merupakan nilai subjektif pengarang yang bisa berupa kondisi sosial,motivasi, tendensi yang mendorong dan mempengaruhi kepengarangan seseorang. Pada gilirannya unsur ekstrinsik yang sebenarnya ada di luar karya sastra itu, cukup membantu para penelaah sastra dalam memahami dan menikmati karya yang dihadapi. Pengalaman mendalam dan pengenalan unsur ekstrinsik tersebut memungkinkan seseorang penelaah mampu ,menginterpretasikan karya sastra dengan lebih tepat.
Unsur tingkat nilai penghayatan dalam prosa fiksi adalah neveau anorganik, neveau vegetatif, neveau animal, neveau humanis, dan neveau metafisika/ transendental.

DRAMA
À      Pengertian Drama Laku dalam Simulasi Realitas
Drama adalah laku yang meniru laku dalam kehidupan nyata untuk memberikan pengukuhan dan alternatif bagi kehidupan itu sendiri. Karena yang ditekankan adalah laku, maka kata-kata/dialog dalam drama harus dipahami sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan situasi interaksi atau komunikasi manusia yang melibatkan tidak hanya kata-kata/dialog itu sendiri, tetapi juga situasi yang melingkungi dialog, seperti siapa yang berdialog, kapan dan di mana dialog itu berlangsung, dan mengapa dialog itu diutarakan. Dengan demikian, dalam laku drama kita melihat kesatuan antara kata-kata, perbuatan, dan situasi. Sifat kemenyatuan ini sangat sesuai atau mirip dengan keadaan yang berlangsung dalam kehidupan komunikasi manusia yang nyata. Oleh karena itu, drama dapat berfungsi sebagai media simulasi realitas, yaitu media untuk menghaluskan dan mengembangkan diri manusia dan kebudayaannya melalui penanaman nilai kultural/keagamaan, penyampaian pemikiran baru, dan penyampaian kritik sosial.

À      Struktur Drama
Sebagai naskah yang utuh, drama dibangun oleh beberapa unsur yang saling berkaitan, yaitu dialog, petunjuk pemanggungan, plot, dan karakter. Dialog merupakan ucapan tokoh tertentu yang kemudian disusul oleh ucapan tokoh yang lain. Melalui pergiliran ucapan tokoh-tokoh itulah segala informasi diutarakan perlahan-lahan dari awal sampai akhir drama. Karena itulah kedudukan dialog sangat penting dan utama di dalam drama. Selain itu, informasi juga diberikan melalui petunjuk pemanggungan.
Petunjuk pemanggungan adalah teks sampingan yang berfungsi untuk memberikan petunjuk tentang berbagai aspek pemang-gungan, yakni aspek karakter, penuturan, dan desain. Teks ini mungkin terdapat di dalam dialog (intradialog) dan mungkin pula terdapat di luar dialog (ekstradialog). Unsur drama berikutnya adalah plot, yaitu pola pengaturan kejadian dalam drama yang membuat kejadian-kejadian tersebut saling berhubungan secara logis, utuh, dan bermakna. Kejadian-kejadian dalam drama tentu saja muncul karena adanya tindakan tokoh/karakter dramatik dengan segala aspek psikis, moral, sosial, dan ciri fisiknya.

À      Jenis Drama
Pada umumnya, drama dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu tragedi dan komedi. Pengelompokan ini didasarkan pada cara pandang filosofis drama tersebut terhadap hakikat hidup manusia. Pandangan hidup yang khas dalam drama tragedi terletak pada penegasan bahwa manusia harus menerima suratan nasib yang tidak dapat dihindarkan. Namun, tragedi juga menggambarkan kenyataan bahwa meskipun kita harus menghadapi dan menerima suratan nasib, kita juga punya kebutuhan yang kuat untuk memberi makna pada nasib kita. Oleh karena itu, semangat drama tragedi tidaklah pasif, melainkan penuh dengan semangat perjuangan, yakni perjuangan untuk memberi makna pada nasib hidup manusia. Adapun komedi menggambarkan kenyataan bahwa seberapa kali pun kita jatuh atau gagal, kita akan dapat bangkit kembali dan meneruskan kehidupan. Komedi memperlihatkan kehendak hidup yang tak terpadamkan. Inilah semangat yang menggerakkan tokoh-tokohnya, yakni semangat untuk merayakan kegembiraan hidup. Kegembiraan hidup itu ditunjukkan dengan cara menyimpangkan keseriusan dan kesakitan (penderitaan) sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan kelucuan.

À      Pementasan Drama
Naskah drama dibuat bukan semata-mata untuk dibaca, tetapi lebih dimaksudkan untuk dipentaskan. Untuk mewujudkan naskah drama menjadi sebuah pementasan, diperlukan banyak pihak yang harus bekerja sama secara kompak. Pihak-pihak tersebut adalah produser, sutradara, aktor/aktris, dan desainer. Berbagai pihak ini kemudian mengubah atau mengonkretkan naskah menjadi konsep produksi, yakni suatu rumusan konseptual atau ide dasar yang menyatukan berbagai aspek pementasan yang berbeda sehingga dapat terbentuk suatu sudut pandang pemaknaan bersama terhadap produksi pementasan. Rumusan ini bersifat general, konkret, dan inspiratif. Dengan panduan konsep produksi itulah berbagai pihak tersebut saling memberikan kontribusi demi terciptanya pementasan yang berhasil.


Saturday, November 29, 2014

Seminar MEA



jangan terlalu keras untuk nempanya :D
ini dari banyak sumbber + hasil dari seminar Mediterranean Bali tanggal 20 November 2014 di Hotel Nikki dari Mediterranean Bali





KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan dan menyusun laporan seminar ini tepat pada waktunya.
Dalam penulisan laporan ini, saya banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu melalui kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih kepada semua teman dan media elektronik yang telah membimbing saya.
Saya menyadari sepenuhnya laporan seminar ini sangat jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari para pembimbing maupun pembaca yang sifatnya membangun sangat saya harapkan untuk terbentuknya laporan yang lebih baik sehingga dapat dijadikan pedoman dikemudian hari.


                                                                               Denpasar, 25 November 2014

                                                                                                    penulis




DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………………………………………
Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………………………………….
A.   Pengertian Masyarakat Ekonomi ASEAN………………………………………………………………….
B.    Latar Belakang ……………………………………………………………………………………………………………….
C.    Tujuan Masyarakat Ekonomi ASEAN…………………………………………………………………………
D.   Tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN…………………………………………………………………..
E.    Ancaman Masyarakat Ekonomi ASEAN……………………………………………………………………..
F.    Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN………………………………………………………………………
Pengertian Masyarakat Ekonomi ASEAN
            Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam artian adanya system perdagangan bebas antara Negara-negara ASEAN. Indonesia dan Sembilan Negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC)
Pentingnya perdanganan ekstrernal terhadap ASEAN dan kebutuhan untuk Komunitas ASEAN secara keseluruhan untuk tetap meilhat kedepan . Ada 4 pilar yang membangun MEA
1.  Pasar Tunggal dan Basis Produksi
Diawali harus bebas yang artinya bebas jasa, bebas keamanan, bebas investasi, bebas barang keaman pangan, dan adanya harus bebas kerja terampil, bebas disini dalam arti ke 10 negara di ASEAN bisa masuk ke Negara lain sewilayah ASEAN asal mereka harus trampil untuk berkerja di ke 10 negara di ASEAN
2.  Kawasan Ekonomi yang Berdaya Saing Tinggi
Artinya tidaklah mungkin satu satu Negara di ASEAN secara individual untuk bisa bersaing dengan Negara lain oleh karena itu 10 negara asean bersatu bagaimana mengembangkan ekonomi ASEAN.
3.  Membangun kawasan dengan ekonomi yang merata
Artinya 10 negara ASEAN tidaklah sama tingkat pengembangan ekonomi, melalui MEA diharapkan ikut meningkatkan perekonomian ASEAN dengan adanya kesetaraan.
4.  Membangun kawasan dengan integrasi penuh terhadap perekonomian global
Pilar pilar ini saling berkaitan kuat. Dengan memasukkan unsure-unsur yang dibutuhkan dari masing-masing karakteristik dan harusmemastikan konsistensi dan keterpaduan dari unsure-unsur serta pelaksanaanya yang tepat dan saling mengkoordinasi d antara para pemangku kepentingan yang relevan.

Latar Belakang
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya. AFTA dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN sebagai wujud dari kesepakatan negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002. Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk mewujudkan AFTA melalui : penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunei Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines,Singapura dan Thailand, dan bagi Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015.

Tujuan Masyarakat Ekonomi ASEAN
Masyarakat Ekonomi ASEAN bertujuan untuk menyatukan ekonomi di kawasan ASEAN. Kelahiran ASEAN sebagai pasar tunggal dan bass produksi jelas akan membkin kawasan ini lebih dinamis dan berdaya asing. Sebab, Masyarakat Ekonomi ASEAN menyepakati pembebasan arus barang, jasa, tenaga kerja, investasi dan modal. Yang tak kalah penting penghapusan tariff perdagangan antar Negara ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN mendorong aliran investasi dan perdagangan menjadi lebih bebas dengan harapan seluruh rintangan dalam investasi dan perdagangan akan berkurang. Hilangnya hambatan arus barang, jasa, investasi dan tenaga kerja tentu akan menguntungkan tiap Negara di ASEAN. Tapi keuntungan diaatas kertas bisa berubah saat di lapangan.

Tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN
1.  Laju peningkatan ekspor dan impor
Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia memasuki integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak hanya yang bersifat internal di dalam negeri tetapi terlebih lagi persaingan dengan Negara sesame ASEAN dan Negara lain di luar ASEAN seperti China dan India
2.  Laju inflasi
Tantangan lainnya adalah laju inflasi Indonesia yang masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan Negara lain di kawasan ASEAN
3.  Kesamaan Produk
Kesamaan jenis produk ekspor unggulan ini merupakan salah satu penyebab pangsa perdagangan intra-ASEAN yang hanya berkisar 20%-25% dari total perdagangan asean
4.  Daya saing SDM
Kemampuan bersaing SDM tenaga kerja Indonesia harus ditingkatkan baik secara formal maupun informal

Ancaman Masyarakat Ekonomi ASEAN
SDM Indonesia sedang terancam dari berbagai sisi, antara lain integrasi mobilitas tenaga kerja kawasan ASEAN melali kesepakatan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN, teknologiyang semakin berkembang di perdagangan bebas yang menyebabkan membanjirnya produk luar di Indonesia
Rendahnya kualitas tenaga kerja Indonesia disebabkan karena system diklat yang masih berorientasi pada pendekatan “supply driven”. Program diklat yang dikembangkan oleh lembaga diklat pemerintah dan swasta belum mengacu kepada kebutuhan pasar kerja. Akibatnya terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara kualitas tenaga kerja yang dihasilkan oleh lembaga diklat dengan kualitas yang dibutuhkan oleh dunia usaha / industry.
Selain masalah itu, dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini juga mengancam eksistensi usaha sekaligus SDM local. Selama ini Indonesia lebih banyak berperan sebagai pasar empuk bagi produk-produk luar. Berbagai produk Negara lain membanjiri Indonesia mulai dari makanan, fashion, otomotif dan elektronik. Produk-produk itu sangat kompetitif baik dari segi kualitas maupun harga sehinga produk dalam negeri menjadi kuarang berkembang akibat kalah bersain
Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN
            Dampak MEA adalah semakin terjadinya liberalisasi ekonomi di kawasan ASEAN. MEA memberikan panduan bahwa akan terjadi arus bebas ekonomi setidaknya dari beberapa hal : Barang, Jasa, Investasi, modal dan yang terpenting adalah tenaga kerja terdidik.
Masyarakat Ekonomi ASEAN akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi, mempercepat integrasi regional di sector-sektor prioritas, memfasilitasi pergerakan bisnis tenaga kerja terampil dan bakat, dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN sebagai langkah awal untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN
Pada saar yang sama, Masyarakat Ekonomi ASEAN akan mengatasi kesenjangan pembangunan dan mempercepat integrasi terhadap Negara Kamboja, Laos,  Myanmar dan Vietnam melalui initiative for ASEAN integration dan inisiatif regional lainnya.
Bentuk kerjasamanya adalah :
1.     Pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas
2.    Pengakuan kualifikasi professional
3.    Konsultasi kebih dekat pada kebijakan makro ekonomi dan keuangan
4.    Langkah-langkah pembiayaan perdagangan
5.    Meningkatkan infastruktur
6.    Pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN
7.    Mengintegrasikan industry di seluruh wilayah untuk mempromosikan sumber daerah

8.    Meningkatkan keterlibatan sektor swasra untuk membangun Masyarakat Ekonomi ASEAN

Saturday, November 8, 2014

JIWA SETELAH KEMATIAN


Kematian  adalah  perpisahan  jasad  dengan  Roh. Mati menurut pandangan Hindu hanyalah berlaku bagi jasad, bukan untuk Roh. Kematian hanyalah sebuah fenomena saja. Bagi Roh, jasad tak lebih dari sekedar baju yang jika sudah usang mesti dilepas/dibuang untuk diganti dengan yang baru sebelum mendapat “selimut keabadian” di alam Moksa. Baik buruknya kualitas baju yang diperoleh kemudian bergantung dari daya beli “uang kebajikan” yang telah ditabungnya. Baju baru si Roh akan disandang pada reinkarnasinya. Baju yang paling mahal adalah bermerek “Manusia”, merek ini pun ada bermacam tingkatan, ada yang asli (kualitas utama), yang sedang, rendah bahkan yang imitasi juga banyak.
Gambaran perjalanan sang Roh antara kematian dan kelahiran kembali sebagai berikut : Roh berpindah dengan badan astral atau suksma sarira. Badan astral ini terjadi dan 19 tattwa atau prinsip, yaitu; 5 organ penggerak, 5 organ pengetahuan, 5 prana, pikiran, kecerdasan dan citta (bawah sadar) dan ahamkara atau keakuan (ego). Badan halus ini membawa segala jenis samskara atau kesan, serta wawasan atau kecenderungan-kecenderungan dan Roh pribadi. Bila buah dan karma- karma baik telah dihabiskan. Ta menggabungkan dirinya dengan badan fisik yang baru dan berinkarnai pada tempat di bumi ini. Yang penilakunya sudah baik mencapai kelahiran baik, dan yang perilakunya jahat ditanik ke dalam kandungan yang penuh dosa atau kelahiran yang lebih rendah.
Hindu mengenal konsep PurusaPradhana, Brahman-Atman, Bhuana Agung-Bhuana Alit. Pada peristiwa “kematian”, Atman diharapkan kembali kepada Brahman, dan jasad (Bhuana Alit) kembali kepada alam (Ehuana Agung). Untuk proses kembalinya Bhuana alit ke Bhuana Agung, cara yang terbaik adalah dengan membakar (kremasi). Mengapa kremasi yang terbaik? Menurut Sri Swami Sivananda, kremasi memberikan manfaat yang tertinggi bagi Roh. Bila badan tidak dibakar, sang Roh/Jiwa masih dihubungkan dengan bumi. Roh terkatung-katung mengitari badan yang sudah mati disebabkan oleh moha atau keterikatan pada badan fisik. Perjalanannya ke alarn surgawi terhalang karenanya. Jika dibakar, getaran-getaran yang dihasilkan dari penguncaran mantra dan persembahan sesajian air mampu memberikan hiburan dan menyenangkan Roh yang meninggal.

·         Apakah yang terjadi pada atma (jiwa) ?
Dalam ajaran Agama Hindu dipercaya manusia memiliki dua badan / tubuh yaitu badan kasar ( Tubuh ) dan badan halus yang sering disebut ROH atau JIWA /ATMA Badan Kasar atau tubuh manusia akan terus berkembang sampai akhirnya seluruh sel yang ada di dalam tubuh rusak sehingga tidak dapat beraktifitas lagi, setelah seluruh sel tersebut rusak dan mati maka tubuh manusia akan mati ( meninggal ).
Sedangkan badan halus / roh / jiwa akan meninggalkan tubuh manusia ( badan kasar ) yang nantinya akan melanjutkan perjalanan menuju tempat untuk menunggu reingkarnasi kembali ( sorga atau neraka ) tergantung dari perbuatan semasa hidupnya yang dalam istilah hindu dikenal dengan KARMA PHALA.
Dalam geguritan ATMA PRASANGSA diceritakan perjalanan ATMA / ROH MENUJU SORGA bersatu dengan Parama Atma ( IDA SANGHYANG WIDI WASA / TUHAN YANG MAHA ESA ). Bagi yang percaya dengan adanya reingkarnasi dan kehidupan setelah ajal menjemput maka Saya akan coba menceritakan perjalanan tersebut sedangkan yang tidak percaya tidak ada salahnya untuk membaca cerita ini.
Ketika telah ditakdirkan atau telah saatnya manusia meninggal maka badan halus ( Roh / Jiwa / Atma ) akan meninggalkan badan kasar ( tubuh) sehingga tubuh manusia yang telah ditinggalkan oleh Atma akan tidak bisa melakukan aktivitas apapun dan disebut mati, nah sekarang diceritakan seseorang yang telah mendalami ajaran agama dimana dalam cerita ini orang tersebut telah tiba waktunya untuk terpisah dari badan kasarnya (Meninggal Dunia).
¨     
·         Apakah Kematian Itu ?
Kematian  adalah  perpisahan  jasad  dengan  Roh. Kematian itu terjadi pada waktu raga berpisah dengan jiwa, manakala waktu itu tibamaka jiwa manusia merasa senang, karena saat itu manusia baru bebas, terlepas dari belenggu raga yang sejak dahulu telah mengurungnya. Mati menurut pandangan Hindu hanyalah berlaku bagi jasad, bukan untuk Roh. Kematian hanyalah sebuah fenomena saja. Bagi Roh, jasad tak lebih dari sekedar baju yang jika sudah usang mesti dilepas/dibuang untuk diganti dengan yang baru sebelum mendapat “selimut keabadian” di alam Moksa. Baik buruknya kualitas baju yang diperoleh kemudian bergantung dari daya beli “uang kebajikan” yang telah ditabungnya. Baju baru si Roh akan disandang pada reinkarnasinya. Baju yang paling mahal adalah bermerek “Manusia”, merek ini pun ada bermacam tingkatan, ada yang asli (kualitas utama), yang sedang, rendah bahkan yang imitasi juga banyak. .
Hindu mengenal konsep PurusaPradhana, Brahman-Atman, Bhuana Agung-Bhuana Alit. Pada peristiwa “kematian”, Atman diharapkan kembali kepada Brahman, dan jasad (Bhuana Alit) kembali kepada alam (Ehuana Agung). Untuk proses kembalinya Bhuana alit ke Bhuana Agung, cara yang terbaik adalah dengan membakar (kremasi). Mengapa kremasi yang terbaik? Menurut Sri Swami Sivananda, kremasi memberikan manfaat yang tertinggi bagi Roh. Bila badan tidak dibakar, sang Roh/Jiwa masih dihubungkan dengan bumi. Roh terkatung-katung mengitari badan yang sudah mati disebabkan oleh moha atau keterikatan pada badan fisik. Perjalanannya ke alarn surgawi terhalang karenanya. Jika dibakar, getaran-getaran yang dihasilkan dari penguncaran mantra dan persembahan sesajian air mampu memberikan hiburan dan menyenangkan Roh yang meninggal.

·         Bagaimanakah Jiwa Lepas dari Kematian ?
Perjalanan Atma diawali dengan peristiwa perpisahan raga dan jiwa. Perpisahan itu menimbulkan kesedihan, baik bagi yang meninggalkan, maupun yang ditinggalkan, yakni segenap keluarga. Meskipun diliputi kesedihan akibaperpisahan itu, sang Atma tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat suci untuk mengadakan pemujaan kepada Hyang Tripurusa yang mengandung arti tindakan tindakan yang dilakukan oleh Atma ketika mengadakan pemujaan.
Setelah selesai melakukan pemujaan, sang Atma melanjutkan perjalanan menuju Pura Dalem untuk memuja Hyang Durga, yang mengandung arti perbuatan yang dilakukan oleh sang atma ketika memuja Hyang Durga. Hyang Durga dipuja dalam berbagai wujud, yakni sebagai Bhagawati apabila berkuasa di Bale Agung member umur panjang kepada manusia, sebagai Bhwrawa apabila berkuasa di tempat pembakaran mayat, sebagai Dewi Putrika jika berkuasa di Gunung Agung, sebagai Dewi Dhanu apabila berkuasa d Gunung Batur, sebagai Gayatri jika berkuasa di tempat pemandian, sebagai Dewi Gangga apabila berkuasa disungai-sungai besar atau semacamnya, dan sebagai Dewi Sri jika berkuasa di Sawah. Setelah selesai melakukan pemujaan dan telah mendapat Ridho Hyang Durga, sang Atma merasa senang dan kemudian melanjutkan perjalanan, meskipun banyak rintangan yang akan dijumpa dalam perjalanannya, yang artinya sang Atma selesai melakukan pemujaan dan mohon diri dari hadapan Hyang Durga. Sang Atma keluar dari Pura Dalem, pada saat itu, bintang timur bersinar terang yang menandakan fajar menyingsing, sang Atma melanjutkan perjalanan.
Dalam menempuh perjalanan untuk menuju dunia baru, seseorang tidak bisa lepas dari rintangan-rintangan, baik rintangan yang menimbulkan perasaan suka maupun duka. Kesukaan atau kesenangan berupa keindahan dunia baru yang mulai diinjak oleh sang Atma merupakan godaan pertama. Akan tetapi, sang atma tidak terlena oleh kesenangan itu. Sang Atma tidak lupa aka Tuhan. Sang Atma tetap sadar dalam menempuh perjalanan.
Sang Atma melanjutkan perjalanan dengan menyusuri sungai Serayu. Rintangan yang mengancam keselamatan sang Atma mulai berdatangan. Sang Atma dihadang oleh seekor Buaya, buaya itu hendak menyantap sang Atma, akan tetapi sang Atma dapat menjinakan buaya tersebut karena sang atma mengetahui rahasianya, yakni buaya itu sesungguhnya merupakan perwujudan temburu, sehingga sang Atma terbebas dari ancaman. Setelah itu, sang Atma dihadang oleh raksasi Sirsa, akan tetapi, sang Atma dapat menjinakan Raksasi Sirsa, karena sang Atma tau rahasianya, sebenarnya Raksasi Sirsa sesungguhnya merupakan perwujudan sinar rahim ibu. Ancaman berikutnya adalah harimau merah, sang Atma tau rahasianya, yakni harimau merah merupakan perwujudan darah seorang ibu melahirkan. Setelah itu, sang Atma diancam oleh serigala hitam, sang Atma dapat menaklukan serigala hitam itu karena ia mengetahu rahasianya, yakni sebagai perwujudan air ketuban. Selanjutnya sang Atma sihadang oleh Bhutakala, akan tetapi, sang Atma dapat menjinakannya dengan memberikan upah berupa sesajen. Setelah itu, sang Kala Catur dating menghadang sang Atma, sang Atma dapat menaklukkannya karena ia tau rahasianya, yakni sebagai perwujudan Anggapati, Mrajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja.
Rintangan demi rintangan dapat dilalui sang Atma, pada prinsipnya sang Atma mengetahui berbagai ilmu yang menyingkap tabir rahasia itu. Pengetahuan mengenai berbagai ilmu kerohanian, khususnya ilmu kelepasan telah menghantarkan sang  Atma disambut oleh Bidadari dan Malini. Tampaknya, kebahagiaan telah dating menyambut sang Atma. Para Bidadara dan Bidadari menjemput sang Atma dengan tandu emas. Kebahagiaan itu pun tidak membuat sang Atma takabur dan lupa diri. Sang Atma tetap sadar akan dirinya, merasa tidak tahu apa-apa, merasa sangat kerdil dihadapan kekuasaan Tuhan yang maha besar. Kesadaran diri itu pun telah mengantarkan sang Atma untuk memasuki kebahagiaan tertinggi, kedamaian abadi sebagai tujuan hidup yang luhur.


(PIDATO) How to Prevent Negative Effect of Tourism Industry in Bali



Om Swastyastu,

The honorable ones the principle of Mediterranean Bali, all teachers and administration staff of Mediterranean Bali and all my friends. Before I begin to give a speech, I would like to invite you to thank to Ida Sang Hyang Widhi Wasa the Almighty, Who has given us Mercy and Blessing, so we can meet together in this blessing place. It be a great honour for me, to stand right here in front of you all to give a speech about How to Prevent Negative Effect of Tourism Industry in Bali.
First I will explain to all of you what the tourism. Tourism is travel for recreational, leisure, or business purposes As we know, tourism in Bali is a good prospect for Indonesia. At this time we can feel the impact of tourism. Every day we see foreigners enjoy their holiday in Bali and why they prefer to visit Bali for their vacation. This is because Bali has many interesting places such as beaches, temples, and cultures. Those are Bali’s superiority. Therefore we must keep, protect, and maintain them. By protecting and maintain them, Bali will become as famous as we wish to achieve our goal.
Ladies and gentleman, we know tourism in Bali is a good prospect for Indonesia. But Many of the negative impacts from tourism occur when the amount of visitors is greater than the environment's ability to cope with the visitor volume.
Some of the consequences of exceeding the environmental capacity include strain on already scarce resources such as water, energy, food and natural habitat areas. In addition, unchecked tourism development may lead to soil erosion, increased pollution and waste, discharges into the sea and waterways, increased pressure on endangered species of animals and plants, and heightened vulnerability to deforestation, as well as loss of biodiversity.
The same way that tourism can encourage the preservation of socio-cultural authenticity of host communities, mass tourism may also erode traditional values by introducing foreign elements which are in conflict with the cultural, historical, and religious heritage of the community. The tourism paradox therefore, lies in the tension between our desire to travel the world, and the need to provide the most benefits with the least harm. Many well intentioned people in the public and private sector are hard at work looking for solutions that will provide viable, long-term socio-economic benefits for tourist areas.

Ladies and gentleman, there are 5 ways to improve the tourism in Bali, which are as follows:
1.     Firstly, we have to keep everlasting our culture and tradition because our culture is the first power of attraction for tourist.
2.    Secondly, we have to improve safety in Bali too in order for them to feel safe during their visit. In this case, the local government has to be involved. What should we do to improve our place safe,
·         Minimize other people to come to Bali and live in Bali.
·         Whoever entering Bali we must check their identity, and other necessary document.
·         We have to make sure that they aren’t involved with terrorist network.
·         Increase security system in every transit area, by installing the CCTV and finding good security guard.
·         The community itself has also conscious to participate to keep the safety around their environment, in order to decrease the crime.

The above points can be supported the safety of Bali and to expedite Bali’s tourism. An example in 2002 Bali had bomb attacked, it makes Bali’s tourism slip down. Many tourists return to their own country, it also causing Bali’s economic crisis. Many employees were redundancy. Now we can think how important the safety for our life is.

3.    Thirdly, the cleanliness environment in order for Bali looks more nature and eternality of environment, the tourist will feel comfort if the environment look clean.
4.    Make more public facilities for tourists use, like toilet, telephone, highway, bridge, bus stop, etc, we must participate to keep their condition in order to the tourist can use that.
5.    To keep the friendliness of Balinese community to make the tourist feel happy and enjoying their vacation. Balinese community famous with their friendliness. We always say “Om Swastiastu” if we meet other people, that shows our behavior. The tourists think it is interested.

It used to development Bali Island. As we know that the tourists are very interested in with our beautiful nature and culture.
Okay, from my argument above we can conclude that the tourism give us the motivation to keep everlasting of our culture. Because we have different culture, we must learn more about our culture, and from the culture and tourism the government can get more tax. Because of that we as the young generation must have responsibility of our culture. We know many teenagers in Bali have desire to the tourism industry.
At last, I apologize if when I explain my speech there is the words that make you hurt. This is my last argument. I hope what I say in above can brings more advantages in your life. Thanks for your attention
Om Santih, Santih, Santih, Om.


sumber :

KEWIRAUSAHAAN

Wirausahawan adalah seseorang yang melakukan kegiatan usaha dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan per...